Tampilkan postingan dengan label SOSIAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SOSIAL. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Maret 2012

ENI:BERJUANG HIDUP DI BAWAH GARIS KEMISKINAN




CITEUREUP-  Kesejahteraan hidup menjadi dambaan semua  orang, tercukupinya kebutuhan sandang, pangan dan papan. Untuk mencapainya banyak cara yang dilakukan, tentunya dengan bekerja keras.
Namun  kehidupan yang di alami Eni (40),  jauh di bawah rata-rata, kehidupan yang sangat sulit ia jalani dengan sabar, dengan bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah seorang guru.
Kampung Nagrog Rt05 Rw02, Desa Sukahati Kecamatan Citeureup tempat ia tinggal bersama keluarganya  di rumah berukuran 3 x 5 meter ini yang hanya ada satu ruangan saja, kamar, dapur dan kamar mandi dalam satu ruangan. ia bersama suami dan anaknya tinggal. Suami Eni yang hanya kuli serabutan, Munawar (60) terkadang ia bekerja di proyek pembangunan jalan, menjadi kenek tukang bangunan, sampai menjual umbi singkong.
Karena kurangnya pendidikan menjadikan dirinya merasa minder untuk bermasyarakat dengan warga sekitar, setiap harinya ia jalani dengan bekerja pada tetangganya yang memerlukan bantuannya unutuk menggosok pakaian ataupun membersihkan rumah. Salah satunya di rumah ibu Peppy guru Tk di daerah Sukahati, ia di bayar perharinya sebesar Rp10 ribu, terkadang mendapatkan pemberian berupa uang ataupun makanan dari orang lain yang menaruh belas kasihan padanya.
Munawar bekerja dari pagi hingga petang, demi mencukupi kebutuhan rumah tangga, namun kerja keras yang ia lakukan tidak bias mencukupi kebutuhan sehari-hari terkadang ia pergi ke tempat pekerjaannya dengan berjalan kaki yang jarak tempuhnya bias mencapai 10 Kilometer.
“Kalau dipakai buat ongkos gak ada buat sehari-hari”, tutur Eni, yang menceritakan suaminya.
Untuk makan sehari-hari, kadang hanya makan pagi saja sorenya tidak makan. “boro-boro buat bayar sekolah buat makan saja susah”, tegas Eni yang sudah 15 tahun tinggal di desa Sukahati.
Eni mempunyai tiga orang anak yang kesemuanya laki-laki, anak pertama Eni juga ikut meringankan beban keluarga, Nur Bara (20), pria yang hanya mengenyam pendidikan Sekolah Dasar (SD), yang kini ia bekerja di Pabrik Agar Agar di daerah Tarikolot Kecamatan Citeureup,  dari gajinya pun tidak bias mencukupi kebutuhan hidup. Dia tinggal bersama neneknya karena tempat tinggal Eni cukup sempit.
Latifah (35) , tetangga Eni, ia menuturkan pula kalau ia sangat mengkhawatirkan keadaan keluarga Eni, yang memang tidak mampu, terkadang ia selalu berbagi rasa bersama keluarga Eni, “kasihan, tapi teh Eni orangnya gak pernah minta walaupun keadaannya seperti itu,kalau di ajak kerumah dia kadang gak mau alasannya sih malu”, ujar Latifah.
Bila Eni atau keluarganya sakit, ia hanya membeli obat warung atau meminum obat herbal (daun-daunan), karena buat ongkos ke Puskesmas saja ia anggap mahal. “Kalau meminjam uang terkadang orang yang mau dipinjami sudah ada rasa takut, karna mungkin saya gak bisa gantinya”,keluh Eni, sembari menahan air matanya yang hamper keluar.
Dituturkan pula oleh Latifah, Pemerintah setempat juga gak bias di salahkan. “karena teh Eni terlalu dusun(kuper) jadi jarang bermasyarakat”,tutur Latifah. Eni juga menuturkan kalau ia di tahun lalu belum pernah menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari Pemerintah hingga sampai saat ini, hanya para Dermawan yang memberi tambahan untuk kebutuhan hidupnya.
Latifah juga mengomentari hal ini, karena ia Penduduk baru di Desa Sukahati, ia mengatakan kalau kemiskinan disini memang masih tinggi bukan berarti Pemerintahan Setempat memandang dengan sebelah mata tapi kembali lagi kepada Individualnya, “mau maju atau tidak itu tergantung orangnya, malahan banyak pendatang yang lebih maju di Desa ini,” kata Latifah.
Secara terpisah, Sekretaris Desa Sukahati (Muhtar Gozali) menuturkan kalau kemiskinan di Desa Sukahati Kecamatan Citeureup masih tinggi, apalagi di Sukahati bagian Timur. dulu di era 70-an masyarakat di daerah ini masih mengesampingkan pendidikan formal “Tak usah Sekolah Dasar, Madrasah saja udah cukup,” tutur Sekdes sembari mengingat masa lalu.
Namun karena keadaan jaman yang mulai berbeda, waktu yang bergulir, lama kelamaan Pendidikan Formal pun menjadi di utamakan. Ia pun menuturkan Program Perencanaan Desa, yaitu memprioritaskan Pendidikan karena sumber Daya Manusia (SDM) disini masih rendah.
Ia pun berkomentar tentang kemiskinan yang masih tinggi di Desa Sukahati terlebih di kampung Malingping. Pernah jugadiadakannya seleksi tentang kemiskinan di Desa Sukahati, terkadang rumahnya tidak layak huni tapi punya tanah luas dan berpenghasilan, ada yang rumahnya bagus tapi tidak punya penghasilan, maka mana yang harus di katakana miskin. “Kembali kepada individualnya lagi, kang”, ujar Sekdes.
Pemerintah Desa Sukahati masih menyoroti hal itu namun kembali kepada Sumber Daya Manusia (SDM) nya lagi, peningkatan taraf hidup sudah dilakukan dengan berbagai cara oleh Pemerintah Desa Sukahati, seperti halnya diadakan Koperasi Simpan Pinjam.
Jadi kemiskinan yang terjadi di Desa Sukahati bukan karena sikap Pemerintah Desa yang  tidak memperhatikan keadaan masyarakatnya, akan tetapi memang sejak dulu di Desa Sukahati sesepuhnya tidak mengedepankan Pendidikan Formal seperti yang telah dikatakan Sekdes Sukahati, Sumber Daya Manusia nya yang masih rendah mengakibatkan tidak adanya keahlian.
Pemerintah Desa Sukahati masih berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya, dengan berbagai cara terutama di bidang Pendidikan dan Sumber Daya

Kamis, 23 Februari 2012

Di belakang Pria yang Kuat, Selalu Ada Wanita Hebat!

Di belakang Pria yang Kuat, Selalu Ada Wanita Hebat!







BETAPA  hebat menjadi wanita. Lembut, penuh kasih, dilindungi, dihormati dan dihargai. Kehadirannya diperlukan oleh setiap manusia di semua peringkat usia. Sebagai anak dia menyenangkan. Sebagai saudara, dia menenteramkan. Sebagai isteri, dia menginspirasi. Sebagai ibu, dia pendidik ulung dan sebagai  teman, dia dikenal sebagai penasihat yang ikhlas.
Di sebalik kekurangannya dari sisi akal dan agama, dalam banyak situasi, wanitalah pemeran utama di belakang layar. Baik pendidikan yang diterimanya, baiklah pula pengaruh yang dibawanya.
Boleh dikatakan, wanita adalah penentu jatuh atau tegaknya pria. Malah dalam banyak kisah dari seluruh dunia , dialah yang membangunkan pria, memberikan motivasi dan buah fikiran yang tak dapat ditepikan.
Hal yang sama berlaku kepada keluarga Muslim-mukmin yang cinta li ilah li kalimatillah, jihad fi sabilillah.

Dalam sebuah keluarga, posisi paling penting adalah sebagai isteri, karena dialah orang yang paling dekat dan paling mengerti suaminya. Di sinilah letaknya makna syarikatul hayah (pasangan kehidupan), yang setia menjadi sayap suami dalam keadaan suaminya hadir dan sewaktu ketiadaannya. Bersungguh-sungguh berusaha membantu secara hakiki dan maknawi dalam mencapai cita-cita hidup mulia atau mati syahid.
Firman Allah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)  di dalam surah At-Taubah, ayat 71;
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَـئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ
اللّهُ إِنَّ اللّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Dan orang-orang yang mukmin pria dan wanita, sebahagian daripada mereka adalah penolong bagi sebahagian yang lain, mereka menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar, mereka mendirikan shalat, mengeluarkan zakat dan ta’at kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan dirahmati Allah. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Bijaksana.”

Apakah syarikatul hayah (partner kehidupan?), apakah kriteria yang diperlukan? Secara ideal, seorang wanita Muslim haruslah memiliki modal:
1.  Memiliki tingkat iman dan taqwa yang memadai

Paling tidak, mampu membedakan mana yang haq dan mana yang batil. Cukup pula untuk dia memilih dan memilah yang halal, haram dan yang syubhat. Dengan demikian, dia menggenggam izzah-nya dengan kuat.
Bila sudah berbekal dengan iman dan taqwa, dia tidak akan mudah berputus asa dan kemudian diserang kemurungan apabila ditimpa musibah. Dan dua bekal tersebut akan menjadi benteng dirinya dari terjebak ke dalam perbuatan atau kerja yang berisiko mengancam aqidah dan akhlaq.
2. Sebaiknya dia menguasai ilmu dien dan akademik

Wanita yang berwawasan akan menyadari kepentingan ilmu lantaran dialah yang akan memikul tanggung-jawab sebagai guru besar kepada anak-anaknya, baik semasa keberadaan suami  di rumah maupun pada saat ketidakhadiran suami. Dengan ilmu, dia mampu berperan sebagai pembantu pribadi suami dan berupaya menjadi pendidik kepada anak-anaknya.
Sementara dengan kemahiran atau skil-skil tertentu, antara lain, memasak, menjahit, mengajar, memandu kenderaan dan lain-lain, dia akan memiliki inisiatif dan kreativitas dalam menjalani hidup, baik bersama suami mahupun ketika bersendirian.
3. Berkemampuan mengendali emosi

Wanita Muslim yang baik, ia harus sanggup bersusah-payah dan berusaha untuk qanaah, karena suami yang cintakan Allah, agama dan jihad akan otomatis menjadikan dunia sebagai sarana menuju akhirat, bukan sebagai kesenangan dunia semata. Menurut istilah Imam Asy-Syafii rahimahullah, “Hakikat zuhud adalah tidak meletakkan dunia di hatinya.”
Ini bermakna, bahwa seorang isteri harus kuat menahan hati dan emosi bila kekayaan sewaktu-waktu  bila keperluan dunia makin tidak sempurna dan mulai berkurang.
4. Memiliki mental yang kuat

Dalam bahasa yang lebih mudah, wanita ahrus kuat menahan perasaan. Ada banyak kondisi dan situasi yang menuntut kemampuan ini; kepergian suami dalam waktu lama, anak yang sakit di kala suami sibuk dan tak dapat mendampingi, keperluan ummat yang menyita waktu bersama suami. Atau ujian berat, ketika para wanita mendapi suami-suami mereka di penjara. Sementara keluarga yang tidak mendukung dan kondisi keuangan yang tidak stabil, adalah satu hal yang tak dapat tepiskan begitu saja. Bahkan berat pula kondisi ketika para suami berkeinginan “membantu” mengangkat derajat kaum hawa menjadi pendamping.
Sungguh luar biasa semua itu, jika perasaan marah, cengeng,  dan cemburunya mampu diletakkan di tempat yang betul dan baik serta wajar.
5. Mampu mengawal diri dari sifat buruk yang timbul dari situasi tertentu

Sifat buruk di sini antara lain adalah; membanggakan diri sebagai isteri, dengan itu dia paling tau banyak hal. Membanggakan suami dan merendahkan orang lain bisa juga menganggap dirinya orang paling malang dan paling memerlukan perhatian banyak orang ketika sedang  ditimpa musibah dan lain sebagainya.
6. Memiliki daya tahan dan kemahuan yang kuat

Daya tahan seorang istri-lah yang menjadi inspirasi dan menjadi pendorong utama para suami untuk melaksanakan amal dan karir. Dia ibarat  antibodi yang gigih melawan sembarang jenis bakteri, kuman dan  virus yang menyerang jiwa dan semangat suami dan keluarga.
Dia berkemauan kuat untuk bersama-sama suaminya menempuh ombak lautan perjuangan di dalam kapal bernama “jihad” dan rumahtangga menuju jannah Rabbnya. Dengan kemauan kuat yang kadang kelihatan seperti sebuah kedegilan, jiwa rapuh ditegakkan, semangat layu disegarkan dan air mata diusap dan diganti dengan senyuman.
7. Selalu berinisiatif untuk kelihatan menarik di mata suami

Wanita Muslim harus menarik dari berbagai segi; penampilan, cara berpakaian, berfikir, bersikap, berbicara dan mengambil keputusan, dalam waktu senang maupun susah. Wanita sebeginilah yang Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)  maksudkan dalam sebuah ucapannya,
“Tidakkah mau aku kabarkan kepada kamu tentang sesuatu yang paling baik dari seorang wanita? Wanita sholehah adalah wanita yang bila dilihat suaminya menyenangkan, bila diperintah ia mentaatinya dan bila suaminya meninggalkannya, ia menjaga diri dan harta suaminya.” [Hadith riwayat Abu Daud dan An-Nasa’i)
Berbahagialah wanita yang membahagiakan suaminya.  Pria yang berjaya adalah pria yang bahagia lantaran telah memperoleh sebaik-baik perhiasan.
Rasulullah dalam sebuah haditsnya mengatakan,  “Ad dunya mata’, wa khoiru mata’iha al mar’atus Shalihat.” (dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah isteri Shalihat, HR. Muslim)
Pria yang berjaya adalah pria yang jiwanya bahagia dan merdeka, adalah pria yang tidak terpenjara oleh ulah dan ragam wanita di sisinya. Untuk itu, kesempatan belajar dan hak dididik perlulah diberi kepada kaum wanita. Tak ada ruginya pria memberi kesempatan wanita belajar. “You get what you give.”

Yakinlah, tangan yang menghayun buaian, akan mampu menggoncangkan dunia. Wallahu a’lamu  bish-shawabi. (Hanya Allah yang Maha tahu kebenarannya)
Paridah Abbas, penulis ibu rumah tangga dan seorang pengajar

AHLAN WA SAHLAN YA AKHI YAUKHTI.....!!!!!!!

Keuntungan menjadi orang miskin, Mau Tahu…??


Jadi orang miskin emangnya enak? Hidup payah, semua serba susah, tidak pernah bahagia, jarang mencicipi makanan enak, terpinggirkan, pakaian tidak pernah berganti dan lain-lain. Ini adalah sebagian stigma yang melekat pada orang miskin. Apakah stigma ini benar adanya atau hanya sebuah stereotype sosial?
Jelas penilaian tersebut adalah sebuah stereotype sosial karena belum tentu orang miskin seperti yang dikatakan diatas, bahkan keadaan yang dirasakan oleh orang miskin bisa sebaliknya. Mengenai kebahagiaan, karena dia adalah perasaan subjektif, maka untuk mengungkapkan bahagia tidaknya seseorang maka penilaiannya juga harus subbjektif, artinya bahwa perasaan senang atau susah harus diungkapkan langsung oleh yang bersangkutan, bukan sebuah generalisasi atau fakta yang dilihat dari luar. Penilaian yang objektif justru akan mengaburkan dan kemungkinan akan bertolak belakang dengan fakta yang sesungguhnya.
Benarkah orang miskin identik dengan kesusahan? Sebagai seorang yang dilahirkan dari keluarga miskin, dan masih tetap miskin sampai sekarang, ternyata kebahagiaan itu selalu datang menyertai, dan saya rasa semua orang miskin sama seperti apa yang saya rasakan. Kebahagian itu adalah milik semua orang, dan porsi terbesar kebahagiaan ada pada orang miskin, karena hal-hal berikut ini:
  • Orang Miskin Biasanya Mudah Bersosialisasi dan Berdaptasi
Jangan minder jadi orang miskin, karena tidak semua orang dapat hidup dalam keadaan seperti ini. Kita adalah orang kuat. Memang penampilan terkadang terlihat norak, tapi lebih norak lagi jika orang kaya jadi orang miskin.
Karena dibesarkan dalam keluarga dan masyarakat yang terbuka, sehingga sosialisasi dan adaptasi dengan orang-orang adalah hal yang paling menguntungkan. Jarang ada orang miskin mengalami kelainan tingkah laku seperti menarik diri dari pergaulan sosial. Dalam hal pekerjaan, orang miskin paling bisa beradaptasi, mereka bisa menduduki posisi dimasa saja, dari kuli bangunan hingga menjadi seorang manager. Ini karena orang miskin biasanya ditempa dengan kehidupan yag keras.
  • Keluarga yang Penuh Cinta dan Perhatian
Biasanya, karena sibuk mengurus dan menambah perbendaharaan harta, seseorang tidak mempunyai waktu untuk memperhatikan keluarga. Urusan rumah tangga adalah urusan pembantu. Jadilah anak mereka seperti mental pembantu, kurang perhatian dan kasih sayang. Mereka biasanya tidak mencerminkan tingkah laku yang sama dengan orang tuanya, tetapi mencontoh tingkah laku pengasuhnya. Mungkin masih lumayan jika pembantunya mengerti tentang bagaimana merawat perkembangan anak, kalau tidak, bisa jadi anak mereka menjadi sesuatu yang “lain”.
Dalam keluarga miskin, mungkin waktu lebih banyak dihabiskan bersama dan bercengkerama dengan keluarga. Dan inilah kebahagiaan terbesar yang yang dialami oleh suatu tumah tangga. Bercanda, ngobrol, bukti bahwa mereka hidup bahagia. Keluarga adalah tempat tinggal dan tujuan utama.
  • Hidup Miskin Makan Selalu Enak
Mungkin ini adalah sebuah fakta yang tidak masuk akal, tetapi ini sebuah kenyataan. Bagi orang miskin, makan hari ini, walaupun sekadarnya, dan menu yang tidak menarik bagi orang kaya, tetapi bagi mereka adalah sebuah kenikmatan terbesar. Mereka akan bersyukur dengan rezeki hari ini. Berbeda dengan orang kaya, walaupun makanannya terlihat lezat-lezat, tetapi tidak senikmat orang miskin jika makan. Orang kaya takut kolesterol, takut jerawatn, takut penyakit jantung dan lain-lain. Jika orang kaya makan ditempat orang miskin, bisa dipastikan mereka tidak akan sanggup, dan kemungkinan akan kena berbagai penyakit, karena tidak adanya anti bodi mereka terhadap makanan yang biasa dikonsumsi oleh orang miskin yang kadang mengandung bakteri berlebih.
  • Tak Perlu Khawatir untuk Hari Esok
Hari esok adalah sebuah penantian yang belum pasti, entah masih hidup atau sudah mati. Bukan berarti tidak ada persiapan dan usaha untuk hari esok, tetapi kehidupan hari esok jangan terlalu dirisaukan, apalagi menimbulkan stress. Karena hari esok adalah masalah baru dan butuh pemecahan masalah dan selusi yang terbaru. Cukuplah hari kemarin dan hari ini adalah pelajaran untuk menghadapi hari esok.
Kekhawatiran akan jatuh jatuh miskin bagi orang kaya, ketakutan bangkrut adalah bukti tidak adanya rasa syukur dan biasanya rakus. Ini adalah penyakit orang kaya. Bisa dipastikan, tidak ada waktu bagi mereka untuk bahagia dan bercanda hari ini, karena waktu bagi mereka adalah uang, padahal uang itu ibarat minum air laut, tambah minum tambah terasa haus.
Tujuan hidup sebenarnya bukanlah uang, tetapi untuk menciptakan kebahagiaan. Dan itu lebih banyak dimamfaatkan oleh orang hidup miskin. Mereka mempunyai waktu untuk merasakan kebahagiaan itu. Semakin bahagia seseorang, semakin terasa bermamfaat hidup didunia.